Penyakit Hati,

5 Sep 2009

Hampir satu bulan terhitung 17 agustus kemaren, gue yang sekarang jadi siswa nomor satu di smkn 36 jakarta, melalui begitu banyak perubahan kehidupan rumah tangga gue di sekolah. Baik perubahan positif atau negatif.
Yang tadinya gue suka telat dateng ke sekolah ,malah sekarang sangat di sorot sama semua orang di sekolah, akibatnya gue mesti bener2 ngelakuin semua peraturan yang di bikin sama tim kesiswaan (ato guru) denngan sempurna, gue gak ngeluh kok untuk ngejalanin peraturanya.. tapi. Disini gue bingung. Kenapa peraturan sekolah yang menyangkut masalah kedisiplinan siswa, di bikin sama guru guru yang notabene bukan orang yang ngelaksanain tuh peraturan.
Coba deh pikirin: jika dalam rapat, pasti ada yg berisik, gak tenang, ngobrol, banyak bercanda, pembahasan melebar dll. Nah kalo ada hal2 yang seperti itu. Pasti di buat komitmen bersamalah, satu satunya jalan terbaik yang bisa menyadarkan seluruh anggota rapat. Tapi kalo yang bikin komitmen(komitmen=peraturan thats right?) orang yang ada di luar rapat maka apakah itu efektif? Pikir sendiri

Tapi sebagai osis apalagi ketuanya, tentunya masalah presepsi ini akan di bahas bersama, jika di sekolah ada peraturan yang sangat berlebihan tanpa ada toleransi atau alasan yang jelas, tentunya peraturan ini harus di hilangkan.. jadi ingat buku PESAN MURID UNTUK GURU yang di tulis sama murid SMA BUNDA HATI KUDUS. Semenjak kelas 3 SMP gue baca buku itu.. paradigma gue mengenai sekolah dan guru langsung berubah 179* (di baca: derajat) dimana di buku itu, diilhami kisah nyata kehidupan billy di sekolah tidak adil-nya. yang mungkin 65% pernah kalian alami di sekolah, mengenai guru yang tidak adil, tidak kompeten, suka mengeluh, mata duitan dll tapi di samping itu sisi positif buku itu, ada juga diantara guru yang sungguh mengajarkan kehidupan. pada intinya guru itu tak mesti sangat pintar dan brilian, berharta dan trendsetter teknologi. Tapi guru yang benar benar pahlawan adalah guru yang bisa mengajar dengan hati, nurani, cinta dan sifat ke-ibuan/ke-bapak-an guru itu sendiri..

Masih inget, sewaktu kelas satu (sekarang kelas 2) gue pernah jadi ketua PHBI(Perayaan Hari besar ISLAM) Maulid Nabi s.a.w. di mana ROHIS kelas dua atau di sebut FORMAL (Forum RemaJa Masjid AL-Istiqomah) sudah melepas ROHIS ke kelas satu, jadi hampir 90% kita merancang dan melakukan semua acara itu.dan Kita masih kelas satu. lalu sewaktu proposal selesai , acara masih 1 bulan kedepan,dan gue lagi sibuk ngurusin pelajaran trus Panitia PHBI agak jarang rapat, seketika itu langsung dapet teguran lewat facebook, dari ketua ROHIS tahun lalu dan KETUA OSIS sewaktu itu:
Begitu menerima pesan itu, hati ini seperti teriris pisau setajam samurai yang rajin hadir saat pengasahan, sangat sakit! Betapa tidak, pada kondisi seperti itu gue harus di tuntut untuk perfect, no mistake, no forgiveness, yang sangat mencacah hati ini, kenapa dia tidak ngomong langsung? Setiap kata yang gue baca semakin membelah perlahan hati ini, tetes demi tetes darah keluar menyembur di antara goresan dinding pembuluh darah.. singkatnya sampai sekarang jika bertemu dengan dia, tak ada satu salampun yang terucap dengn ikhlas. Gue udah nyoba minta maaf lewat chat di facebook ketika dia online, dan dia jawab ya hanya 2 huruf yang sama sekali tidak memberi lampu hijau maaf.
Yah jadi curhat nih, hehehe btw, ini udah malam ke `15 ramadhan, ayo malam lailatul qadar, lakuin yang terbaik di malam ini, dan teman teman gue minta doanya ya agar artikel gue yang DISINI bisa mengugah semangat nasionalis, agar dapet blackberry. sebuah impian jangak pendek ini. aminn..


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post